Perubahan Iklim dalam Konteks Kebencanaan di Indonesia

June 3, 2008 at 3:32 pm | Posted in Opini, Perubahan Iklim | 2 Comments

Penulis: Kiki Damayanti

Sejak munculnya film dokumenter yang diprakarsai oleh Al Gore, The Inconvenient Truth, isu mengenai perubahan iklim semakin mendapat perhatian dunia. Keberadaan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang merupakan bagian dari badan dunia yang melakukan penelitian dan perumusan dokumen kebijakan terkait perubahan iklim pun menjadi acuan bagi warga dunia. Indonesia sendiri juga menjadi bagian dari rangkaian peristiwa penting terkait perubahan iklim, yaitu dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan the United Nations Conference on Climate Change (UNFCCC) pada tanggal 1-14 Desember 2007 yang lalu di Nusa Dua, Bali.

Sebelum penyelenggaraan konferensi ini, sejak awal tahun 2007 telah banyak kegiatan seminar dan diskusi yang digelar oleh LSM-LSM maupun lembaga-lembaga pemerintah Indonesia sendiri untuk meningkatkan pemahaman dan merumuskan aksi yang tepat terkait perubahan iklim. Salah satu produk yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi Perubahan Iklim (RAN-PI) yang saat ini masih dalam tahap legalisasi.

Perumusan RAN-PI ini tentunya menunjukkan pemahaman dan sikap negara ini dalam menghadapi perubahan iklim. Perubahan iklim yang dimaksud di sini merupakan dampak dari pemanasan global yang berbentuk perubahan-perubahan yang signifikan dalam sistem fisik dan biologis. Perubahan-perubahan tersebut antara lain peningkatan intensitas badai tropis, perubahan pola presipitasi, salinitas air laut, perubahan pola angin, masa reproduksi hewan dan tanaman, distribusi spesies dan ukuran populasi, frekuensi serangan hama dan wabah penyakit, serta mempengaruhi ekosistem yang terdapat di daerah dengan garis lintang yang tinggi, lokasi yang tinggi, serta ekosistem-ekosistem pantai (KLH, 2007). Perubahan-perubahan ini secara gradual akan mengakibatkan dampak yang nyata khususnya bagi negara-negara kepulauan dan negara bergaris pantai yang panjang, antara lain berupa kenaikan muka air laut dan gelombang tinggi.

Dalam menyikapi perubahan iklim ini, telah dirumuskan dua konsep penting terkait perubahan iklim, yaitu perlunya tindakan adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim dan pentingnya mitigasi terhadap perubahan iklim. Seperti yang dikutip dari RAN-PI, adaptasi didefinisikan sebagai tindakan penyesuaian sistem alam dan sosial untuk menghadapi dampak negatif dari perubahan iklim. Akan tetapi, tindakan adaptasi ini tidak akan efektif jika laju perubahan iklim melebihi kemampuan adaptasi. Dengan demikian, juga perlu dilakukan tindakan mitigasi[1], yaitu upaya mengurangi sumber maupun penyerap gas rumah kaca.

Terlepas dari kedua konsep tersebut, keberadaan perubahan iklim juga memberikan perspektif berbeda dalam kaitannya dengan dampak yang diakibatkan. Kenaikan muka air laut, gelombang tinggi, perubahan pola hujan dan kemarau yang mengancam produktivitas panen petani, perubahan salinitas air laut yang mempengaruhi populasi ikan tangkapan nelayan merupakan sedikit dari dampak perubahan iklim yang menimbulkan kerentanan dan merugikan masyarakat terkait. Dampaknya yang besar dan merugikan warga dunia ini membuatnya layak dikategorikan sebagai bencana.

Bencana akibat perubahan iklim (bencana klimatologi) menunjukkan ciri yang berbeda dibandingkan dengan bencana geologi seperti gempa, tsunami, dan sebagainya. Bencana yang dipahami secara umum adalah bersifat mendadak dan bervariasi dari yang dapat hingga yang tidak dapat diprediksi sehingga membutuhkan tanggap darurat saat terjadi bencana. Sementara bencana klimatologi terjadi secara perlahan (gradual) dalam jangka yang relatif panjang. Wilayah pantai dan pulau-pulau kecil merupakan yang lebih dulu terkena dampak perubahan iklim dibandingkan wilayah-wilayah lainnya. Walaupun demikian, beberapa perwujudan dari bencana klimatologi merupakan bencana yang telah dikenal sebelumnya, antara lain banjir, longsor, dan kebakaran lahan gambut. Bencana klimatologi juga memberikan ancaman yang sama dengan bencana lainnya terhadap masyarakat miskin, khususnya yang berada di wilayah pantai dan pulau kecil.

Karakteristik bencana yang berbeda ini tentunya menuntut tindakan yang berbeda untuk mengurangi kerugian akibat dampak perubahan iklim. Konsep adaptasi merupakan salah satu yang perlu diarusutamakan dalam perencanaan jangka panjang di tingkat nasional hingga individu. Pola curah hujan yang menjadi lebih sering dengan durasi yang lebih panjang dan diikuti dengan kemarau panjang menuntut adanya inovasi dalam teknologi pangan untuk menjamin persediaan makanan bagi rakyat. Perubahan pola ini juga dapat mengakibatkan banjir. Sementara kenaikan muka air laut di kawasan pesisir dapat mengancam sumber air baku di sungai-sungai dan menuntut adanya alternatif penyediaan air maupun teknologinya. Kawasan perkotaan yang memiliki kebutuhan air bersih yang besar pun tidak luput dari dampak perubahan iklim sehingga membutuhkan strategi adaptasi yang terintegrasi dengan strategi pembangunan terutama dalam penataan ruang. Khusus untuk pulau-pulau kecil, Small Island Development States (SIDS) tentunya memiliki perhatian yang besar agar dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim menjadi hal penting dalam semua program pembangunan perkotaan, pulau-pulau kecil, dan kawasan pesisir Indonesia.

Referensi

KLH, Kementerian Lingkungan Hidup -. 2007. Draft Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi Perubahan Iklim

[1] Dalam konteks perubahan iklim, mitigasi didefinisikan berbeda dengan mitigasi dalam konteks bencana seperti yang dimaksud dalam UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Mitigasi dalam konteks bencana pada prinsipnya sama dengan adaptasi terhadap perubahan iklim.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Waah menarik..materinya. Kebetulan saya juga sedang mempelajari pengarug perubahan iklim terhadap pola perubahan hujan ataupun bencana tanah longsor. Mbak Kiki punya artikel atau link yg bisa disharing?? terima kasih

  2. Saya masih belum mengerti untuk ke adaptasinya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: