Mengalami Bencana, Mengubah Persepsi

May 23, 2008 at 5:27 pm | Posted in Komunikasi Resiko, Opini | 2 Comments
Tags:

Penulis: Saut Sagala

Dalam beberapa literatur yang saya baca, pengalaman bencana (terjemahan bebas dari disaster experience, CMIIW) salah satu faktor yang berperan dalam menentukan persepsi resiko (sekali lagi merupakan terjemahan bebas, dari risk perception). Secara korelasi nilai yang diberikan positif. Artinya secara rata-rata , orang yang pernah mengalami bencana akan memiliki persepsi resiko yang lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki pengalaman sendiri terhadap bencana.

Saya berikan dua contoh berikut.

Hari ini saya (bersama dua teman, yang juga di milist ini) berkunjung ke salah satu perkumpulan persiapan terhadap bencana (dlm bhs Jepang: Jishu-Bo). Seorang pemimpinnya, mungkin bisa disebut founding father-nya, Pak Ota, memiliki semangat yang sangat menggebu-gebu untuk mendorong komunitasnya bersiap dalam menghadapi bencana. Dari presentasi yang diberikannya, jelas sekali bahwa Pak Ota memahami secara detail mengapa gempa terjadi dan juga mampu menjelaskan dengan cara yang mudah kepada orang awam, melalui ilustrasi-ilustrasi seperti cerita-cerita dalam kertas lipat ataupun juga potongan-potongan kertas yang menjelaskan bagaimana lempeng-lempeng di bumi bergerak dan menyebabkan gempa. Selidik punya selidik, ternyata Pak Ota, pernah mengalami sendiri bencana, yaitu gempa besar Kobe 1995. Ketika itu di depan rumahnya persis terdapat lubang yang besar karena tanahnya amblas dan banyak rumah ambruk di sekitarnya. Ketika dia bercerita tentang hal ini, tampak sekali bahwa dia sedang terharu. Selain itu, kakek Pak Ota sendiri pernah mengalami gempa besar Kanto 1923 di Tokyo. Sesudah kejadian tahun 1923 keluarga mereka hijrah ke Kyoto dan memulai kehidupan baru. Tetapi memori tentang gempa Kanto membuat kakeknya bertekat untuk bekerja di bagian pemadam kebakaran di Kyoto. Secara singkat kesimpulannya adalah persepsi Pak Ota dan keluarganya terhadap gempa (bencana secara umum) berubah karena mengalami sendiri bencana.

Contoh kedua datang dari studi saya yang sebenarnya masih dalam tahap analisis, tapi menurut saya juga baik untuk di-sharingkan. Dari data yang saya miliki, saya bisa menarik kesimpulan umum saat ini bahwa penduduk yang berada pada zona bahaya 3 (zona paling berbahaya), yang artinya secara pengalaman pernah mengalami bencana atau melihat bencana sebelumnya, memiliki persepsi resiko yang lebih besar dibandingkan penduduk yang berada di zona bahaya 2 (zone berbahaya). Saya belum bisa cerita lebih lanjut tentang ini karena masih menganalisis datanya.

Dua kesimpulan di atas sepertinya mendukung pendapat yang saya sebutkan.

Tapi ternyata tidak sepenuhnya demikian! Studi yang dilakukan oleh Douglas Paton (dimuat tahun 2008), menggunakan data tahun 199oan akhir, mendapatkan bahwa sesudah mengalami bencana persepsi resiko dari penduduk menjadi menurun. Paton melakukan studi dengan menggunakan longitudinal data. Data sebelum bencana terjadi (gunung meletus) dan sesudah bencana terjadi. Hasilnya rata-rata nilai persepsi resikonya adalah menurun.

Penjelasan logisnya adalah demikian. Gunung yang meletus tersebut ternyata tidak menimbulkan dampak sebesar yang mereka bayangkan. Akibatnya resiko (risk) yang sebelumnya tinggi menurut mereka, “di-verifikasi / dikoreksi” oleh kejadian bencana sehingga nilainya menurun.

Contoh serupa menurut saya adalah kasus terjadinya “false alarm/warning” untuk tsunami. Sesudah beberapa kali terjadi false alarm, penduduk mungkin akan mengalami penurunan tingkat kepercayaan terhadap resiko dari bencana. Yang terakhir ini adalah dugaan saya saja. Masukan dan kritik sangat diharapkan.

Saut

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hypotesisnya benar..bahwa daerah yang berbahaya oleh suatu bencana alam, akan memiliki persepsi resiko yg besar ketika sdh mengalami sendiri. Data yg ada disy juga demikian..

  2. Kebetulan, thesis saya juga menyoroti ttg persepsi resiko dalam masyarakat (Kampung Melayu). Dari situ saya bisa menarik kesimpulan kalau masyarakat Kp.Melayu itu karena sudah begitu familiarnya dgn banjir (banjir datang setiap musim hujan, frekuensinya bisa 3-4 kali dengan durasi bervariasi) sehingga membuat persepsi resiko masyarakat di daerah tsb menurun..wong mereka bilang banjir itu biasa koq..kalau tdk banjir itu baru luar biasa!!

    Nah inilah yang musti diperhatikan oleh pemerintah..bagaimana bisa mengatasi bencana kalau korban bencananya saja tenang-tenang dan tidak menganggap banjir itu masalah! Banjir malah dijadikan ajang kesempatan untuk mendapat bantuan dan sumbangan (terutama dr LSM-LSM).
    Kayanya perlu ada pendekatan khusus deh buat menangani banjir..ga cuma dari sisi teknis doang (BKT, pengerukan sampah di S.Ciliwung, dsb) tp juga dimulai dari masyarakatnya..pake pendekatan sosial gitu untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi banjir.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: